Wamenkomdigi Dorong Pekerja Kuasai AI Hadapi Perubahan Era Digital
Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) generatif mendorong perubahan besar dalam cara perusahaan bekerja, mengambil keputusan, dan memberikan layanan. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai pemahaman AI kini menjadi bekal penting bagi pekerja Indonesia.
Nezar mengatakan pekerja perlu memahami pemanfaatan teknologi AI yang berkaitan langsung dengan bidang pekerjaannya. Kemampuan tersebut diperlukan agar tenaga kerja dapat beradaptasi dengan perubahan pola kerja yang semakin dipengaruhi teknologi digital.
AI Generatif Mengubah Cara Kerja dan Pengambilan Keputusan
Nezar menilai perkembangan AI generatif membuat perubahan di dunia kerja semakin nyata. Teknologi tersebut tidak hanya membantu menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga berpotensi memengaruhi proses pengambilan keputusan dan pelayanan kepada masyarakat.
“Dilema ini nyata, karena kemajuan pesat AI generatif telah mengubah cara kita bekerja, mengambil keputusan, dan melayani masyarakat,” ujar Nezar dalam keterangannya yang diterima dan dikonfirmasi pada Sabtu.
Menurut Nezar, kebutuhan pekerja untuk memahami teknologi AI sudah berada pada tahap mendesak. Perusahaan yang menerapkan AI secara luas juga berpotensi mengalami perubahan dalam pembagian tugas dan pola kerja karyawannya.
baca juga: Google dan OpenAI Serukan Perkuat Keamanan Siber, Serangan AI Makin Bahaya
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguasaan teknologi tidak lagi hanya menjadi kemampuan tambahan. Literasi AI semakin dibutuhkan agar pekerja mampu memahami manfaat teknologi sekaligus mengantisipasi perubahan yang ditimbulkannya.
Hampir Seperempat Pekerja ASEAN Terpapar AI Generatif
Nezar merujuk laporan Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang menunjukkan besarnya pengaruh AI generatif terhadap dunia kerja di kawasan ASEAN. Hampir satu dari empat pekerja di kawasan tersebut memiliki pekerjaan yang terpapar AI generatif.
Paparan tersebut menunjukkan bahwa transformasi berbasis AI dapat memengaruhi tenaga kerja dalam skala luas. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan jenis pekerjaan, tetapi juga keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan tersebut.
Karena itu, pekerja perlu meningkatkan kemampuan agar dapat mengikuti perubahan tuntutan pekerjaan. Pemahaman mengenai AI juga membantu tenaga kerja menggunakan teknologi secara lebih tepat sesuai kebutuhan dan tanggung jawab masing-masing.
Pemerintah Perlu Mengantisipasi Dampak AI terhadap Ekonomi
Nezar menegaskan dampak penerapan AI tidak berhenti pada sektor ketenagakerjaan. Perkembangan teknologi tersebut juga dapat memengaruhi pendapatan negara dan struktur fiskal sehingga membutuhkan perhatian pemerintah sejak tahap awal.
“Bagi pemerintah Indonesia, temuan ini bukan sekadar topik akademis,” kata Nezar.
Menurut dia, pemerintah tidak dapat menunggu dampak AI muncul terlebih dahulu sebelum menyiapkan langkah mitigasi. Kebijakan perlu diarahkan sejak awal untuk memperkuat kemampuan pemerintah dalam memahami, mengelola, dan memanfaatkan teknologi.
Pendekatan tersebut diperlukan agar transformasi AI berlangsung secara terarah. Pemerintah juga perlu memastikan penerapan teknologi tidak menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap tenaga kerja maupun perekonomian nasional.
Pelatihan Ulang ASN Menjadi Kebutuhan Mendesak
Dalam lingkungan pemerintahan, Nezar menilai peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang aparatur sipil negara (ASN) menjadi bagian penting dalam menghadapi transformasi AI.
ASN yang menangani kebijakan ketenagakerjaan, perpajakan, ekonomi digital, dan tata kelola digital perlu memahami cara kerja AI. Mereka juga harus mampu mengenali dampak serta risiko yang muncul dari penerapan teknologi tersebut.
“Peningkatan dan pelatihan ulang keterampilan bukan lagi pilihan,” ungkap Nezar.
Penguatan kompetensi ASN diharapkan tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis. Pemerintah juga perlu meningkatkan literasi AI, kemampuan menganalisis kebijakan, serta kapasitas mengambil keputusan berdasarkan data.
Kompetensi tersebut dapat membantu ASN menghadapi perubahan kebutuhan pemerintahan digital. Pada saat yang sama, peningkatan kemampuan aparatur dapat mendukung pembentukan tenaga kerja nasional yang lebih tangguh dan inklusif.
Tata Kelola AI Perlu Didukung Koordinasi Lintas Sektor
Selain meningkatkan kompetensi pekerja dan ASN, Nezar menilai kesiapan menghadapi implementasi AI harus ditopang tata kelola yang kuat. Koordinasi lintas sektor juga diperlukan agar kebijakan terkait teknologi dapat disusun secara konsisten.
Pemerintah perlu memiliki pemahaman yang memadai mengenai teknologi sebelum merumuskan kebijakan. Langkah tersebut penting untuk mencegah munculnya respons yang berlebihan atau kebijakan yang justru menghambat pemanfaatan AI.
Nezar berharap pemerintah dapat membangun kapasitas jangka panjang dalam menghadapi perkembangan teknologi. Pemerintah juga diharapkan mampu memanfaatkan AI untuk memperkuat transformasi digital sekaligus mengantisipasi risikonya.
“Pemerintah harus berperan sebagai regulator yang berpengetahuan, bukan reaktif,” kata Nezar.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kesiapan menghadapi AI membutuhkan pendekatan yang proaktif. Penguatan literasi teknologi, peningkatan keterampilan, dan tata kelola yang tepat menjadi fondasi agar transformasi AI dapat memberikan manfaat bagi pekerja, pemerintah, dan perekonomian Indonesia.
baca juga: Wamenkomdigi: Kampus harus jaga sisi kritis mahasiswa hadapi Gen AI




Leave a Reply