- trailerrentalsbyowners – Presiden Ke-5 RI yang juga Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, menerima kunjungan Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Irak untuk Indonesia, Ammar Hameed Saadallah Al-Khalidy. Pertemuan ini berlangsung di kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta, pada Senin (27/4/2026). Agenda utama pertemuan adalah membahas situasi terkini di Timur Tengah yang semakin memanas, serta upaya mempererat hubungan bilateral yang telah berjalan 76 tahun.
📜 Mengenang Kunjungan Bersejarah Bung Karno ke Irak (1961)
Mengawali perbincangan, Al-Khalidy menceritakan kembali kunjungan bersejarah Presiden Soekarno (Bung Karno) ke Baghdad, Irak, pada tahun 1961. Saat itu, Bung Karno disambut hangat oleh Perdana Menteri Irak, Mayor Jenderal Abdel Karim Qassim.
“Kami masih menyimpan film dokumenter kunjungan bersejarah tersebut,” kata Al-Khalidy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Kunjungan tersebut memiliki makna yang sangat mendalam karena dilakukan untuk memperkuat hubungan diplomatik di tengah Perang Dingin. Pada momen itu, Bung Karno juga menegaskan posisi Indonesia yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina serta mengukuhkan solidaritas pemimpin negara-negara Dunia Ketiga yang mandiri (Gerakan Non-Blok).
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Irak secara resmi didirikan pada tahun 1950. Irak merupakan salah satu negara yang cepat mengakui kemerdekaan Indonesia, dengan pengakuan de jure pada tahun 1947. KBRI Baghdad kemudian dibuka pada 27 Maret 1950 untuk memperkuat kerja sama bilateral di berbagai sektor.
🤝 Hubungan 76 Tahun dan Kenangan Megawati
“Hubungan Indonesia dan Irak sudah masuk tahun ke-76, kami terus berharap tetap kuat dan hangat. Kami juga tahu sikap Ibu Megawati saat menjadi presiden yang menolak keras serangan terhadap Irak tahun 2003,” ujar Al-Khalidy.
Pernyataan ini merujuk pada sikap tegas Megawati saat memimpin Indonesia pada masa invasi Irak oleh koalisi pimpinan AS. Indonesia di bawah Megawati secara konsisten menolak perang dan menyerukan perdamaian di Timur Tengah.
🛡️ Sikap Irak: Tolak Serangan AS-Israel, Tolak Juga Serangan Balasan
Terkait konflik yang terjadi saat ini di Timur Tengah (pasca eskalasi AS-Iran pekan lalu), Al-Khalidy menyampaikan sikap resmi pemerintah Irak yang tegas mengutuk serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Namun, Irak juga mengecam serangan balasan Iran terhadap negara-negara tetangganya.
“Pemerintah kami secara resmi mengutuk serangan AS dan Israel ke Iran, namun juga mengutuk serangan balasan Iran terhadap negara-negara tetangganya. Kami menolak perang ini, kami menjunjung tinggi mekanisme dialog, negosiasi, dan perdamaian,” tegas Al-Khalidy.
✊ Tanggapan Megawati: Pelanggaran Kedaulatan dan Piagam PBB
Menanggapi hal tersebut, Megawati Soekarnoputri menyampaikan pandangannya dengan tegas. Ia menilai bahwa serangan AS dan Israel terhadap Iran adalah pelanggaran kedaulatan negara merdeka. Menurutnya, tindakan tersebut bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Hukum Internasional.
Lebih lanjut, Megawati menekankan bahwa serangan tersebut juga melanggar semangat Dasa Sila Bandung (10 prinsip yang dihasilkan dari Konferensi Asia-Afrika 1955). Prinsip-prinsip itu antara lain menghormati kedaulatan teritorial semua bangsa, tidak melakukan intervensi, dan menyelesaikan sengketa dengan cara damai.
Megawati berharap agar konflik di Timur Tengah segera dihentikan dan semua pihak kembali ke meja perundingan. “Perang hanya akan merugikan rakyat kecil dan menciptakan krisis kemanusiaan baru,” ujarnya.
Dengan pertemuan ini, Megawati kembali menunjukkan konsistensinya sebagai negarawan senior yang tetap memperjuangkan perdamaian dunia dan memperkuat hubungan dengan negara-negara sahabat di Timur Tengah, khususnya Irak.
“Baca Juga : Jojo Kalah dari Vitidsarn, Indonesia Tertinggal 0-1“
Megawati Terima Utusan Irak, Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran dan Kenang Pidato Bung Karno soal Reformasi PBB
Saat membahas hubungan masa lalu Indonesia-Irak yang sudah menginjak usia 76 tahun, Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Irak untuk Indonesia, Ammar Hameed Saadallah Al-Khalidy, mengungkapkan sebuah fakta sejarah yang menarik tentang Pidato Presiden Soekarno di PBB tahun 1960.
“Ternyata Bung Karno sudah melontarkan ide reformasi PBB di tahun 1960 melalui pidatonya, jauh sebelum pembahasan masalah reformasi PBB yang ramai dibahas sejak tahun 1993,” kata Al-Khalidy terkagum-kagum.
Pidato yang dimaksud adalah pidato bersejarah Bung Karno di depan Sidang Umum PBB ke-15 pada 30 September 1960 yang berjudul “To Build The World Anew” (Membangun Dunia Kembali). Dalam pidatonya itu, Bung Karno mengkritik struktur PBB yang dianggap tidak demokratis karena hak veto yang dimiliki lima negara besar (AS, Inggris, Prancis, Rusia, China).
Di saat dunia mulai serius membahas reformasi Dewan Keamanan PBB pada tahun 1992-1993 (pasca Perang Dingin), ternyata ide itu sudah dilontarkan Bung Karno 3 dekade sebelumnya. Al-Khalidy melihat bahwa pemikiran Bung Karno sangat visioner dan relevan dengan kondisi geopolitik saat ini.
Setelah diskusi panjang, pertemuan yang berlangsung sekitar 1,5 jam itu diakhiri dengan sesi foto bersama dan saling memberikan cinderamata khas masing-masing negara.
🎁 Cinderamata dari Megawati Soekarnoputri untuk Irak:
- Buku “Bung Karno tentang Pancasila” (edisi bahasa Inggris)
- Buku “Pidato Bung Karno di PBB: To Build the World Anew”
- Biografi Politik Megawati Soekarnoputri dalam bahasa Arab (hadiah istimewa mengingat tamu berasal dari negara berbahasa Arab)
- Miniatur Candi Borobudur (ikon budaya Indonesia)
- Kemeja tenunan Endek dari Bali.
Sambil memberikan kemeja Endek, Megawati berpesan dengan hangat sambil tersenyum, “Harapan saya, kalau Yang Mulia memakai baju ini akan selalu ingat saya dan Indonesia.”
Al-Khalidy pun menjawab sambil tersenyum lebar, “Tentu, Yang Mulia.”
Balasan dari KUAI Kedubes Irak:
- Lukisan khas Irak yang menggambarkan arsitektur klasik daerah Al-Kadzimiyah di Baghdad.
- Manisan khas Baghdad yang disebut “al-manna wa salwa” (makanan manis legendaris yang disebut dalam Al-Qur’an).
Sejak terjadinya serangan AS dan Israel terhadap Iran beberapa waktu lalu, Megawati memang sering menerima kunjungan dari para duta besar negara sahabat yang ingin mendengarkan pandangan dan wejangan dari mantan Presiden RI sekaligus putri Proklamator ini.
Dalam pertemuan tersebut, Megawati didampingi Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyano, Ketua DPP PDIP Eriko Sotarduga, Rokhmin Dahuri, serta politisi PDIP M. Guntur Romli.
Pertemuan ini menunjukkan bahwa hubungan Indonesia-Irak tidak hanya berlangsung di tingkat pemerintahan (Kementerian Luar Negeri), tetapi juga di tingkat personal dan historis antara keluarga besar pendiri bangsa Indonesia (Bung Karno) dengan perwakilan Irak.
“Baca Juga : Google Suntik Rp 690 Triliun ke Anthropic Perkuat AI“




Leave a Reply