Mercedes Hadapi Sorotan AS karena Kepemilikan Investor China
Rancangan Aturan AS Soroti Hubungan Mercedes dengan Perusahaan China
Mercedes-Benz kembali menjadi perhatian publik Amerika Serikat setelah rancangan regulasi baru di Senat AS menyoroti keterlibatan perusahaan otomotif yang memiliki hubungan kepemilikan dengan China. Aturan tersebut berpotensi berdampak pada produsen mobil asal Jerman itu karena sebagian sahamnya dimiliki investor dari China.
Isu ini muncul ketika pemerintah AS memperketat pengawasan terhadap industri otomotif untuk mengurangi ketergantungan terhadap China, terutama dalam sektor teknologi kendaraan dan keamanan data. Kebijakan tersebut bertujuan membatasi pengaruh perusahaan China dalam ekosistem kendaraan yang beroperasi di pasar Amerika.
Berdasarkan laporan Carscoops pada Kamis (23/7), rancangan undang-undang yang dibahas Komite Perdagangan Senat AS akan membatasi produsen otomotif dengan tingkat kepemilikan China tertentu agar tidak dapat beroperasi secara bebas di pasar AS.
Mercedes menjadi salah satu perusahaan yang ikut terdampak karena memiliki dua investor besar asal China, yakni BAIC dan Li Shufu, pendiri Geely. Kedua pihak tersebut secara keseluruhan menguasai hampir 20 persen saham Mercedes-Benz.
Kepemilikan Saham China Jadi Perhatian Legislator AS
Dalam rancangan aturan yang sedang dipertimbangkan, kepemilikan investor China di atas ambang batas 15 persen dapat menjadi masalah bagi perusahaan otomotif yang ingin menjalankan bisnis di Amerika Serikat.
baca juga: Produksi Honda Civic Si dan Acura Integra Manual Dihentikan Sementara
Posisi Mercedes menjadi sorotan karena kepemilikan saham dari BAIC, perusahaan otomotif milik negara China, serta Li Shufu, yang juga dikenal sebagai pendiri Geely, melewati batas yang sedang dibahas oleh anggota parlemen AS.
Meski demikian, ancaman larangan operasional terhadap Mercedes belum menjadi keputusan final. Sejumlah anggota parlemen menegaskan bahwa tujuan utama aturan tersebut bukan untuk menghentikan aktivitas perusahaan seperti Mercedes-Benz di Amerika.
Senator Ted Cruz menyampaikan bahwa pihaknya tidak memiliki rencana untuk melarang Mercedes-Benz beroperasi di AS. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya kemungkinan pengecualian bagi produsen yang memiliki hubungan investasi dengan China tetapi tetap memenuhi standar keamanan yang ditetapkan pemerintah.
Senator Bernie Moreno juga menyebut Mercedes masih memiliki waktu hingga 2030 untuk menyesuaikan struktur kepemilikannya. Perusahaan juga berpeluang mengajukan pengecualian apabila aturan tersebut resmi diberlakukan.
AS Perketat Aturan Teknologi China pada Kendaraan
Kasus Mercedes mencerminkan langkah lebih luas pemerintah AS dalam membatasi pengaruh China pada sektor otomotif, khususnya terkait teknologi kendaraan terkoneksi atau connected car.
Sebelumnya, pemerintahan Presiden Joe Biden telah menerapkan aturan yang membatasi penggunaan perangkat lunak dan perangkat keras kendaraan yang berasal dari China. Kebijakan itu diberlakukan karena pemerintah AS menilai teknologi tersebut berpotensi menimbulkan risiko keamanan nasional melalui pengumpulan data kendaraan.
Aturan kendaraan terkoneksi tersebut melarang penggunaan perangkat lunak konektivitas asal China untuk kendaraan model tahun 2027. Sementara itu, pembatasan terhadap perangkat keras asal China akan berlaku untuk kendaraan model tahun 2030.
Kebijakan tersebut juga berdampak terhadap sejumlah produsen kendaraan lain. Polestar, merek mobil listrik yang sebagian besar sahamnya dimiliki Geely dari China, menghadapi tantangan untuk mempertahankan aktivitasnya di pasar AS akibat aturan tersebut.
Industri Otomotif Mulai Menyesuaikan Rantai Pasokan
Perubahan regulasi membuat produsen kendaraan dan pemasok global mulai mengevaluasi kembali rantai pasokan mereka. Perusahaan otomotif melakukan audit terhadap komponen teknologi yang digunakan untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan baru.
Para pemasok juga mulai mencari alternatif komponen konektivitas yang tidak berasal dari China. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari hambatan perdagangan sekaligus memenuhi standar keamanan yang ditetapkan pemerintah AS.
Namun, proses penggantian komponen tidak berjalan mudah. Sejumlah eksekutif industri memperkirakan perpindahan dari perangkat keras asal China dapat meningkatkan biaya produksi hingga 15 persen.
Bagi produsen seperti Mercedes-Benz, tantangan utama bukan hanya terkait kepemilikan saham, tetapi juga memastikan seluruh rantai teknologi dan pasokan memenuhi regulasi baru di pasar Amerika.
Mercedes Masih Memiliki Ruang untuk Menyesuaikan Strategi
Meskipun menghadapi tekanan regulasi, Mercedes-Benz belum menghadapi larangan langsung untuk menjual kendaraan di Amerika Serikat. Pemerintah AS masih membuka ruang pembahasan terkait batas kepemilikan dan kemungkinan pemberian pengecualian.
Situasi ini menunjukkan bahwa hubungan industri otomotif global semakin dipengaruhi oleh faktor geopolitik. Produsen kendaraan harus menyeimbangkan kepentingan bisnis internasional dengan tuntutan keamanan nasional dari setiap negara tempat mereka beroperasi.
Ke depan, Mercedes dan perusahaan otomotif global lainnya kemungkinan perlu memperkuat transparansi kepemilikan, memperbarui rantai pasokan, serta mengurangi ketergantungan terhadap teknologi dari negara tertentu agar tetap kompetitif di pasar AS.
baca juga: Strategi China bersaing di industri otomotif dunia




Leave a Reply