trailerrentalsbyowners -Ini adalah beberapa contoh bagaimana teknologi digital dengan cepat membentuk ulang lanskap olahraga di China. Inovasi mutakhir kini menjadi pemandangan biasa di berbagai pusat pelatihan atlet di negeri Tirai Bambu.
Para perenang profesional China kini menyesuaikan teknik gerakan mereka dengan bantuan kamera bawah air dan algoritma kecerdasan buatan (AI). Sistem ini secara real-time menganalisis sudut siku, kekuatan tendangan kaki, serta posisi tubuh di dalam air, memberikan rekomendasi perbaikan yang jauh lebih akurat dibandingkan pengamatan mata telanjang pelatih.
Di ajang yang berbeda, robot humanoid berhasil menyelesaikan lari setengah maraton (half-marathon) di sirkuit terbuka. Robot-robot ini menggunakan sensor lidar dan AI untuk menavigasi jalanan, menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya membantu manusia, tetapi juga belajar bergerak seperti manusia.
Tak hanya untuk performa, teknologi juga merambah ke aspek estetika dan identitas olahraga. Sebuah perusahaan pakaian olahraga ternama di China telah menggunakan desain yang dihasilkan AI untuk seragam tim nasional. Algoritma AI mampu menciptakan motif dan struktur kain yang mengoptimalkan aerodinamika sekaligus mencerminkan budaya lokal.
Visi besar ini tertuang dalam rencana induk mereka. “Pada 2030, kami bertujuan untuk membangun sebuah komunitas olahraga digital yang tersebar luas, cerdas, presisi, aman, efisien, dan terbuka,” ujar Wakil Direktur Informasi Olahraga di bawah naungan Administrasi Umum Olahraga China, Zhu Han.
Baca juga:Bojak Hodak Tegaskan Persib Siap Lawan PSM Meski Tanpa Dua Pemain Inti
AI Resmi Memasuki Ruang Ganti Tim Dunia, IOC Luncurkan Agenda AI Olimpiade
Pada April 2024, Komite Olimpiade Internasional (IOC) melangkah maju dengan meluncurkan Agenda AI Olimpiade. Langkah ini secara resmi mendorong seluruh komunitas olahraga global untuk mengadopsi kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai aspek, mulai dari pelatihan atlet, wasit, hingga pengalaman menonton.
Di Inggris, inovasi telah berjalan sangat masif. Tim DeepMind Google menganalisis data dari ribuan tendangan sudut yang dieksekusi oleh Liverpool FC. Hasilnya, mereka mengembangkan TacticAI, sebuah asisten pelatih berbasis AI. Sistem ini tidak hanya merekomendasikan posisi pemain terbaik saat tendangan sudut, tetapi juga memprediksi siapa yang paling berpeluang mencetak gol. Pelatih Liverpool kini dapat menggunakan prediksi tersebut untuk merancang skema set-piece yang mematikan.
Di belahan dunia lain, IBM Watsonx menandatangani kemitraan strategis dengan Ultimate Fighting Championship (UFC). Tujuannya adalah untuk meningkatkan pengalaman penonton. AI digunakan untuk menganalisis gaya bertarung petarung secara real-time, menampilkan statistik probabilitas kemenangan di sela-sela ronde, serta mengotomatisasi alur kerja siaran sehingga produksi tayangan menjadi lebih dinamis dan informatif.
Tak ketinggalan di olahraga musim dingin, Google membangun sistem analisis berbasis video canggih untuk tim ski nasional Amerika Serikat. Kamera yang ditempatkan di sepanjang jalur lintasan merekam setiap gerakan atlet dengan kecepatan tinggi. AI kemudian memproyeksikan garis lintasan ideal (garis tercepat) dibandingkan dengan lintasan aktual atlet, membantu mereka menyempurnakan teknik dan memangkas sepersekian detik yang berharga.
Fenomena ini menandai peralihan dari pelatihan berdasarkan intuisi menjadi pelatihan berdasarkan data. Para ahli memperkirakan bahwa dalam lima tahun ke depan, setiap klub sepak bola profesional akan memiliki departemen AI sendiri, layaknya departemen fisioterapi.Â
Universitas Olahraga Beijing Ciptakan AI Renang dan Lompat Jauh, Li-Ning Optimalkan Sepatu Lari dari Data Kenya
Shen Yanfei, dekan sekolah teknik olahraga di Universitas Olahraga Beijing, menyatakan bahwa kecerdasan digital telah menggeser paradigma lama. “Olahraga bergeser dari yang berbasis pengalaman menjadi berbasis data, dan dari yang berbasis manusia menjadi berbasis kecerdasan,” ujarnya.
Tim Shen telah berhasil mengembangkan sebuah sistem analisis berbasis AI untuk renang. Sistem ini menggunakan kamera berkecepatan tinggi yang dipasang di atas dan di bawah air. Fungsinya adalah untuk mengukur metrik inti seperti kecepatan putaran tubuh dan waktu segmen untuk setiap gerakan. Sementara itu, algoritma AI menganalisis postur awal serta detail teknis yang sering luput dari pandangan mata telanjang.
Sistem tersebut juga menawarkan fitur canggih lainnya: tinjauan video multi-sudut, anotasi data otomatis, dan pembuatan laporan hasil latihan. Semua ini membantu pelatih melakukan penyesuaian secara presisi tanpa harus menebak-nebak kelemahan atlet.
“Sistem serupa juga telah digunakan dalam pelatihan lompat jauh. Sistem itu merekonstruksi setiap detail gerakan, mulai dari kecepatan awalan hingga sudut pendaratan, untuk memandu optimalisasi teknik,” kata Shen.
Li-Ning: Membentuk Ulang Industri dari Kenya
Teknologi ini tidak hanya untuk atlet nasional, tetapi juga membentuk ulang industri pakaian olahraga. Li-Ning, salah satu merek terkemuka di China, menggunakan AI secara ekstensif dalam pengembangan produksi.
Yang Fan, direktur senior pusat riset ilmu olahraga di Li-Ning, menceritakan pengalaman timnya. Tahun lalu, mereka melakukan perjalanan ke Iten, Kenya, sebuah desa kecil yang dikenal sebagai pusat keajaiban lari jarak jauh dunia.
Di sana, dengan menggunakan perangkat portabel penganalisis gerak, tim Li-Ning merekam dan menganalisis data gerakan tubuh utama dari para pelari maraton elit Kenya. Mereka berhasil menyintesis data postur lari 3D yang sangat akurat.
Wawasan dari data lari atlet Kenya ini kemudian diaplikasikan untuk mengoptimalkan desain sepatu lari. Hasilnya, sepatu tersebut tidak hanya cocok untuk atlet papan atas, tetapi pada akhirnya juga bermanfaat bagi pelari massa yang menginginkan perlindungan cedera dan efisiensi energi.
Baca juga:Chivu Minta Inter Milan Fokus pada Laga Lawan Lazio




Leave a Reply