trailerrentalsbyowners.com -Pembina Klub Tenis Meja ONIC Sports, Yon Mardiono, menyesalkan larangan atlet binaan Indonesia Pingpong League mengikuti PON.
Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi mengganggu persiapan dan performa atlet nasional.
Yon menyampaikan pandangan itu kepada awak media di Jakarta, Kamis.
Yon menjelaskan larangan dari PB PTMSI berdampak langsung pada kondisi mental atlet.
Menurutnya, atlet membutuhkan kepastian kompetisi untuk menjaga fokus latihan.
Ketidakjelasan status bertanding dapat menurunkan motivasi dan kepercayaan diri atlet.
Ia menilai pembinaan prestasi harus memberi ruang bertanding seluas mungkin.
Baca juga:“Federer akui gugup kembali ke Australian Open”
Larangan Atlet IPL di PON Dinilai Hambat Pembinaan Tenis Meja Nasional
Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia memicu sorotan melalui kebijakan atlet IPL.
Organisasi tersebut melarang atlet jebolan Indonesia Pingpong League tampil di PON dan Porprov.
PB PTMSI menjalankan mandat KONI sebagai penyelenggara cabang tenis meja di PON.
Pembina ONIC Sports, Yon Mardiono, menilai kebijakan itu berisiko merugikan pembinaan atlet.
Ia menyebut larangan tersebut menghambat jalur prestasi atlet sejak usia pembinaan.
Yon menilai kompetisi berjenjang penting untuk mencetak atlet berdaya saing nasional.
Ia menyampaikan pandangan itu kepada awak media di Jakarta.
“Larangan ini tentu menghambat pembinaan atlet menuju prestasi nasional,” ujar Yon.
Ia menambahkan atlet membutuhkan panggung kompetisi untuk mengukur kemampuan.
Tanpa keikutsertaan PON, atlet kehilangan pengalaman bertanding penting.
Yon menekankan pembinaan harus berorientasi jangka panjang.
Pembina ONIC Sports Tekankan Atlet Harus Fokus Prestasi dan Pembinaan Global
Pembina Klub Tenis Meja ONIC Sports, Yon Mardiono, kembali menyoroti larangan atlet IPL.
Ia menilai kebijakan tersebut bertentangan dengan tugas utama seorang atlet.
Menurutnya, atlet seharusnya fokus berlatih, bertanding, dan meraih prestasi terbaik.
“Atlet itu tugasnya berlatih dan bertanding untuk menciptakan prestasi setinggi mungkin,” kata Yon.
Ia menyatakan sangat menyayangkan munculnya larangan tersebut.
Yon menilai kebijakan itu mengalihkan fokus atlet dari target prestasi.
Ia menekankan atlet membutuhkan kejelasan jalur kompetisi.
Baca juga:”Pria yang Pukul Wajah Perempuan di Koja Ditangkap Polisi”




Leave a Reply