Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Mata uang Garuda naik 21 poin atau sekitar 0,12 persen ke posisi Rp17.922 per dolar AS. Meski mencatat penguatan, nilai tukar rupiah masih berada di dekat level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang selama beberapa waktu terakhir menjadi perhatian pelaku pasar dan investor.
Pada awal perdagangan, rupiah sempat mengalami tekanan dan melemah 48 poin atau sekitar 0,27 persen hingga menyentuh level Rp17.991 per dolar AS. Namun, sentimen positif yang berkembang sepanjang sesi perdagangan berhasil mendorong rupiah kembali menguat menjelang penutupan pasar.
Efisiensi Anggaran Pemerintah Beri Sinyal Positif bagi Pasar Keuangan
Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah tidak terlepas dari respons positif pasar terhadap langkah pemerintah dalam memperkuat disiplin fiskal. Salah satu sentimen yang mendapat perhatian investor adalah pertemuan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, yang membahas rencana efisiensi anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam pembahasan tersebut, pemerintah berencana memangkas pagu anggaran MBG dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Kebijakan itu diperkirakan menghasilkan penghematan sebesar Rp67 triliun. Selain itu, pemerintah masih membuka peluang melakukan efisiensi tambahan hingga Rp50 triliun apabila diperlukan untuk menjaga kesehatan fiskal negara.
Menurut Ibrahim, kebijakan penghematan anggaran memberikan sinyal bahwa pemerintah tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam mengelola keuangan negara. Langkah tersebut dinilai mampu meningkatkan kepercayaan pelaku pasar karena menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Selain mengendalikan defisit anggaran, efisiensi belanja negara juga diarahkan untuk memperbaiki tata kelola program prioritas. Pemerintah ingin memastikan anggaran yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Sentimen positif tersebut turut mendorong penguatan mata uang di kawasan Asia. Ringgit Malaysia mencatat kenaikan sebesar 0,66 persen terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,32 persen, disusul dolar Singapura yang naik 0,15 persen dan yen Jepang yang terapresiasi 0,13 persen.
Baca juga: “Purbaya naikkan target Panda Bond di atas 1 miliar dolar AS“
Meski demikian, tidak seluruh mata uang Asia bergerak positif. Yuan China melemah sekitar 0,07 persen, sementara peso Filipina dan dolar Hong Kong masing-masing terkoreksi tipis sebesar 0,01 persen terhadap dolar AS.
Pergerakan serupa juga terjadi pada mata uang utama negara maju. Franc Swiss menguat 0,26 persen, euro naik 0,25 persen, dolar Kanada terapresiasi 0,13 persen, dan poundsterling Inggris menguat 0,13 persen. Sebaliknya, dolar Australia justru melemah sekitar 0,20 persen terhadap dolar AS.
Ibrahim menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga didukung sentimen global yang membuat sebagian besar mata uang bergerak positif terhadap dolar AS.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa stabilitas rupiah masih menghadapi tantangan. Pelaku pasar membutuhkan kepastian mengenai arah kebijakan ekonomi pemerintah agar ekspektasi terhadap kondisi makroekonomi tetap terjaga. Koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Dari sisi moneter, Ibrahim menilai Bank Indonesia perlu terus menyampaikan komunikasi yang konsisten mengenai arah kebijakan suku bunga, kecukupan cadangan devisa, serta kesiapan instrumen stabilisasi nilai tukar. Transparansi kebijakan akan membantu menjaga kepercayaan investor dan mengurangi potensi gejolak di pasar keuangan.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih dipengaruhi perkembangan ekonomi global, arah kebijakan bank sentral dunia, serta implementasi kebijakan fiskal pemerintah. Selama disiplin anggaran tetap dijaga dan koordinasi antara pemerintah dengan Bank Indonesia berjalan efektif, peluang menjaga stabilitas rupiah dinilai masih terbuka meskipun tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda.
Baca juga: “Purbaya kembali tempatkan dana hingga Rp400 triliun di bank Himbara“




Leave a Reply